Get Gifs at CodemySpace.com

Minggu, 27 Januari 2013

Ekspedisi Ibukota #4 : Jatuh Hati dengan Kota Hujan (21012013)


Hari ini Geng Inspiratif (Geng Rexona beralih nama sejak mengikuti acara hari Minggu kemarin) berencana untuk mbolang ke Kota Hujan, Bogor. Tepatnya, kami akan mengunjungi oase di tengah panasnya padang pasir ibukota. Yapz! Kebun Raya Bogor menjadi tujuan mbolang kami. Rombongan geng yang terpisah menjadi dua tempat ini telah berjanji untuk berangkat dari rumah masing-masing pukul 07.30 WIB, agar tidak terlalu siang jika di jalan terkena macet. Oleh karena itu, kami bergegas melaksanakan aktivitas pagi (beres-beres rumah, mencuci baju, mandi, sarapan, dll). Rupanya penyakit orang Indonesia masih bersemayam, kami molor 1 jam dan baru berangkat dari rumah pukul 08.30 WIB (walaaahh…).
Perjalanan pertama naik angkot 30 menuju terminal Bekasi dengan ongkos Rp 5.000,00. Sesampai di terminal Bekasi sekitar pukul 09.30 WIB. Kondisi kebersihan tempat umum di Indonesia memang menyedihkan, bagaimana tidak banjir kalau sampah bertebaran dimana-mana dan menimbulkan bau tak sedap yang sangat menyengat. Berawal dari diri sendiri, yuuk biasakan membuang sampah pada tempatnya. Kembali ke cerita saya, rombongan Thiara, dkk ternyata belum sampai di terminal. Akhirnya kami mencari tempat duduk untuk menunggu mereka. Setengah jam berlangsung, belum juga terlihat rombongan geulis-geulis dari Tambun ini. Saya pun menghubungi mereka dan tidak ada yang mengangkat telepon saya. Saya hubungi lagi, alhamdulillah Yunita mengangkat telepon. Betapa shock saat itu, ternyata mereka belum berangkat dari rumah (Apaaaa???). Waktu telah menunjukkan pukul 10.00 WIB, ini masalah waktu dan akhirnya saya,dkk memutuskan untuk naik bus terlebih dahulu menuju Bogor.  Kami memilih bus Kramatdjati tujuan Bogor, ongkos yang harus kami bayar Rp 12.000,00/orang. Karena bus yang kami naiki adalah bus AC, maka kami melewati jalan tol. Perjalanan hanya memakan waktu sekitar 1,5 jam dan kami bisa tidur di sepanjang perjalanan. Saat hampir mendekati kota Bogor, saya terbangun oleh Hp yang bergetar: sms dari Thiara. Ternyata rombongan mereka baru berada di sekitar Bekasi dikarenakan mereka salah naik bus. Bus yang mereka tumpangi bukan bus AC, melainkan ekonomi, sehingga tidak melewati jalan tol, ck ck ck. Mungkin benar kata Fair, selalu ada hal lebih yang didapatkan bagi orang yang menghargai waktu. Selanjutnya saya lebih memilih untuk tidak melanjutkan tidur, tetapi menikmati panorama Kota Bogor dan kesejukan udara di Kota Hujan ini. Tidak lama kemudian bus telah sampai di terminal Barang Siang, kami turun dan cuaca mulai gerimis. Namun kami tidak bingung, karena jas hujan telah disiapkan J. Kami ingin berjalan sampai di Kebun Raya Bogor, akan tetapi setelah bertanya pada ibu-ibu pedagang di terminal, disarankan untuk naik angkot 06 atau 13 mengingat jika tetap berjalan kaki jaraknya lumayan jauh. Jika naik angkot, bisa ditempuh dalam waktu kurang lebih 15 menit. Akhirnya kami naik angkot 13 dengan biaya Rp 2,000,00/orang. Dalam perjalanan tersebut, angkot kami melewati Istana Bogor dan juga kampus IPB. Saat melewati Istana Bogor, kami melihat kawanan rusa yang sangat lucu. Aku bersyukur kepada Allah karena telah diberi kesempatan untuk menikmati pemandangan luar biasa ini. Ketika di depan kampus IPB, saya teringat teman-teman yang kuliah di sini. Dalam hati saya berkata, pasti mereka betah belajar di tempat yang sejuk seperti ini.

CERITA DI KEBUN RAYA BOGOR
  Lamunan saya terhenti karena angkot telah sampai tepat di depan pintu gerbang Kebun Raya Bogor. Teringat cerita guru SD saya tentang bunga Rafflesia Arnoldi yang selalu diceritakan oleh beliau. Puji syukur kepada Tuhan akhirnya saya bisa menginjakkan kaki di tempat yang saya impikan sejak SD. Mimpi ini telah menjadi kenyataan. Sesi foto-foto pun tidak kami lewatkan. Mamel dan Nisa membeli tiket masuk sejumlah 6 (Dik Nurul juga ikut mbolang) dengan harga @Rp 9.500,00. Waktu menunjukkan pukul 11.30 WIB, perut sudah mulai keroncongan. Kami bingung apakah akan berputar menikmati koleksi tumbuhan atau mencari makan terlebih dahulu. Baru teringat pesan Ibu Nisa bahwa di KRB hanya ada satu kafe dan itu mahal. Sementara itu, kami sudah terlanjur masuk dan tidak membawa makanan, hanya satu bungkus roll cake. Akhirnya kami memutuskan mengambil gambar peta KRB dan mencari letak masjid serta kafe. Sambil menyusuri jalan menuju masjid, kami menikmati dan mempelajari berbagai jenis tanaman yang unik. Kurasa masyarakat Indonesia harus berterima kasih pada Thomas Stamford Raffles yang telah berjasa untuk mendirikan kebun raya ini. Sebagai pemuda Indonesia seharusnya malu karena kita justru kurang peduli untuk merawat rahmat Allah yang diberikan pada negara tercinta, Indonesia. Setelah berjalan cukup lama, terlihatlah tempat yang kami cari-cari. Tempat ternyaman untuk istirahat sejenak setelah melakukan perjalanan jauh. Yapz!! Kami telah menemukan masjid (lebih tepat dikatakan sebagai mushola). Kami pun segera bergegas mengambil air wudhu. Subhanallah, air wudhu yang dingin ini terasa begitu menyejukkan, menghilangkan rasa lelah dari perjalanan yang kami lakukan. Setelah selesai shalat Dhuhur dan jamak Ashar berjamaah, mau tidak mau kami segera mencari satu-satunya kafe mahal yang berada di tengah-tengah KRB. Terjadi diskusi yang cukup lama dan sengit diantara kami untuk memantapkan niat apakah jadi masuk ke kafe De Daunan atau tidak, sampai-sampai hujan pun ikut nimbrung dalam diskusi kami. Terdorong oleh rasa lapar yang tak tertahankan serta didukung oleh pernyataan lantang Mamel, “Cah, masa kalian ikhlas kafe iku, pemandangan iku mung dinikmati bule-bule?? Dhewe ki wong pribumi, dhewe luwih berhak daripada mereka”, dengan mantap kami putuskan untuk masuk kafe tersebut. Padahal kami juga ketar-ketir jika uang saku kami tidak mampu membayar makanan di kafe tersebut. Dengan sok PD, kami menginjakkan kaki ke kafe De Daunan, memilih tempat duduk di sebelah ujung agar bisa menikmati hamparan hijau rumput dan taman di depan kafe. Pelayan cantik menghampiri meja kami dan menyodorkan menu makanan. Mata  kami langsung melotot besar sekali, sebesar bola kasti, eh bola bekel ding (lebay mode on), ketika membaca daftar harga makanan. Bayangkan saya air mineral satu gelas Rp 7.000,00, nasi putih Rp 15.000,00, Cap Cay Rp 30.000,00, Sate Ayam tanpa nasi Rp 25.000,00, dan lain-lain. Kami tidak tahu seberapa besar porsi makanan mahal ini. Dengan menelan ludah akhirnya saya memilih memesan Nasi Ayam Kalasan (35rb), Mamel memesan Cap Cay (30rb), Mbak Ari memesan Nasi Goreng Kampung (35rb), Nisa memesan Nasi Goreng Jamur (35rb). Fair memilih makan bareng Mbak Ari, sedangkan Nisa makan bareng adiknya. Untuk minuman, kami memilih minum air mineral yang telah kami bawa dari rumah. Benar-benar pengiritan atau ndesa namanya ya?hahaha.. Karena ingin mencicipi minuman kafe ini, akhirnya saya dan fair patungan memesan Iced Vietnamese Milk Coffe (18rb).  Pelayan pun menyiapkan apa-apa yang kami pesan. Sepanjang waktu di kafe ini kami benar-benar terlihat ndesa, cekikikan dengan tingkah aneh kami sendiri, sama sekali tidak menerapkan sikap table manner yang baik (”bodo amat,” batin kami). Satu hal yang cukup mengecewakan dari kafe ini adalah adanya ulat dalam cap cay mamel (meski demikian mamel tetap menghabiskan cap caynya), serta sayuran dalam makanan yang saya pesan terasa seperti agak basi. Hmm, ini sebagai pelajaran yang dapat kita petik. Saat kita telah mematok harga mahal untuk barang yang kita jual, maka kita juga harus memberikan pelayanan yang terbaik demi kepuasan pembeli. Di saat makanan kami hampir habis, terlihat Thiara,dkk telah berada di dalam KRB menuju mushola yang kami singgahi tadi. Kami pun segera menyusul mereka dan membayar tagihan makanan kami. Alhamdulillah terdapat potongan harga dari jumlah total makanan yang kami pesan.
          Sambil menunggu Thiara,dkk yang sedang sholat di mushola, kami berfoto-foto ria di lapangan luas di dekat KRB. Karena yang ditunggu ternyata lama sekali, kami pun melanjutkan perjalanan menuju rumah anggrek. Mamel sangat terobsesi ke tempat itu. Namun, malang yang kami dapatkan. Ternyata rumah-rumah koleksi tanaman telah ditutup jika melewati pukul 15.30. Berdasarkan info yang kami tanyakan pada salah seorang pekerja di KRB, Kebun Raya Bogor sendiri ditutup pukul 17.30 WIB. Alhasil kami hanya bisa menikmati koleksi tanaman yang bisa kami lihat. Seluruh anggota geng Inspiratif akhirnya bertemu di Jembatan Gantung, salah satu fasilitas menarik di kebun ini. Jembatan Gantung ini berwarna merah dan hanya bisa menampung maksimal 10 orang. Tak lupa kami mengabadikan kenangan ini. Hari semakin sore, keinginan untuk mengunjungi Istana Bogor dan Bunga Bangkai pun kami tunda. Kebetulan Bunga Bangkainya sedang tidak berbunga. Kami segera berjalan menuju gerbang utama KRB untuk pulang. Sebelum kembali naik angkot 13 menuju terminal Barang siang, kami membeli es durian (5rb) sebagai pelepas dahaga. Perjalanan angkot telah sampai di terminal, tak lupa saya membeli roti unyil khas Bogor (seperti yang disarankan Adi kemarin). Harga roti unyil @ Rp 1.100,00 dan saya membeli satu kardus seharga Rp 20.000,00 dengan berbagai rasa yang merata. Fair membeli asinan untuk dibawa ke rumah Nisa. Nisa dan adiknya telah kecapekan, kami juga telah diwanti-wanti agar tidak pulang terlalu malam untuk menghindari kemacetan. Akhirnya kami berpisah kembali dengan Thiara,dkk karena mereka ingin mengisi perut terlebih dahulu.
          Saya,dkk naik bus AC jurusan Bekasi, Sinar Jaya. Sambil menunggu bus terisi penuh oleh penumpang, saya dan kawan-kawan duduk melepas lelah, meregangkan otot-otot kaki yang sejak kemarin telah digunakan untuk perjalanan jauh. Pukul 18.10 bus berangkat menuju Bekasi. Perjalanan pulang ini lebih cepat setengah jam dibandingkan perjalanan saat berangkat tadi. Kebtulan saya tidak tidur selama perjalanan pulang karena lebih memilih untuk menikmati keindahan malam di kota Bogor hingga kota Jakarta dengan kerlap-kelip lampunya. Satu jam berlalu, Sinar Jaya berhenti di terminal Bekasi. Para penumpang turun, kami segera berganti mencari angkot 10 dengan tujuan Pondok Ungu. Dengan ongkos sebesar Rp 3.000,00/orang kami tiba di Pondok Ungu dan beralih ke angkot 31 menuju Gardu. Dari Pondok Ungu menuju Gardu dibebani ongkos sebesar Rp 4.000,00/orang. Tidak lama kemudian kami telah sampai di rumah Nisa. Ibu Nisa yang sejak tadi menunggu kedatangan kami, akhirnya bernafas lega. Saya segera mandi karena merasa sangat gerah. Setelah mandi, kami  shalat dan makan malam sambil berbagi cerita dengan Ibu Nisa. Malam telah cukup larut. Ibu Nisa, Mamel, Mbak Ari telah mengistirahatkan mata mereka. Sementara itu, saya, Nisa, dan Fair masih sibuk menghitung segala pengeluaran hari ini dan mengembalikan segala talangan masing-masing (dasar ibu-ibu, hehe). Nurul, adik Nisa yang cantik ini, belum ikut tidur. Akhirnya saya minta tolong pada dia untuk mengarsipkan foto-foto kami hari ini. Ah….sungguh perjalanan yang menyenangkan. Suatu saat, aku akan kembali lagi ke Bogor. Aku telah jatuh hati pada Kota Hujan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan sahabat memberikan saran,komentar, ataupun kritik. Namun, ingat yaaa, tetap jaga kesopanan ^_^