Get Gifs at CodemySpace.com

Minggu, 27 Januari 2013

Ekspedisi Ibukota #3 : Akumulasi Kekecewaan (20012013)


Adzan Shubuh berkumandang, segera saya tergugah untuk bangun dan bergegas mandi. Semua anggota Geng Rexona sibuk bersiap-siap untuk menghadiri acara konferensi di Pasar Minggu. Semua yang telah siap diminta segera sarapan agar tidak terlalu banyak memakan waktu. Di tengah sarapan, kami dikejutkan oleh sebuah intermezzo yaitu sms dari ketum kami, Yuli Ardika Prihatama, yang dengan PDnya pinjam hem putih kepada Thiara dan minta dibawakan di tempat konferensi nanti. Tentu saja kami tertawa heran dengan tingkah ketum kami tersebut, hahaha..(ternyata ketum rempong juga).
Setelah selesai sarapan, segala barang bawaan pun ditata di dalam mobil. Fair, Mamel, Mbak Ari, dan saya membawa barang paling banyak. Maklum saja, sepulang dari Pasar Minggu, kami tidak pulang ke rumah Thiara lagi, tetapi boyongan ke rumah Nisa di daerah Pejuang Jaya. Oleh karena itu, kami berempat sekalian pamit kepada abi, umi, Anis, Rendra, dan Bi Intan. Saya mendapat banyak pelajaran berharga selama bersama keluarga Thiara. Abi, sosok laki-laki yang sangat memuliakan wanita, sosok ayah yang sangat menyayangi dan mengayomi keluarganya. Umi, sosok ibu yang sangat tegas dan menghargai waktu, wanita mandiri yang sangat gigih. Anis, sosok adik yang sangat ramah dan perhatian. Sosok perempuan yang sangat rajin dan cerdas. Rendra, sosok laki-laki yang sangat menghargai dan menghormati orang lain, sporty, taat, dan juga ramah. Bibi Intan, sosok wanita yang sangat lembut, perhatian, rajin, manis, dan rapi. Thiara, sosok kakak yang sangat manis, perhatian, dan lucu karena keteledorannya ^_^. Kami yang tadinya berencana berangkat pukul 05.30, tertunda setengah jam menjadi berangkat pukul 06.00 WIB. Pertama-tama kami akan mengantar umi terlebih dahulu, akan tetapi di tengah perjalanan, umi memutuskan untuk pindah naik angkutan umum karena masalah waktu. Kami sangat berterima kasih pada beliau karena ternyata beliau lebih memilih untuk mengalah agar kami tidak terlambat. Terima kasih umi… :’( Sementara umi mencari angkutan umum, abi tak membiarkan umi begitu saja sendirian mencari angkutan. Dengan gagah abi menyeberangkan umi, menemani umi mencari angkutan. This is very nice ^_^

RUNTUTAN KEKECEWAAN
          Perjalanan dilanjutkan kembali, kurang lebih pukul 07.30 kami sampai di TKP. Nisa, Adi, Dika, dan teman-teman yang lain telah menunggu di sana. Sungguh berkah dari Allah, cuaca masih cerah dan tidak menampakkan tanda-tanda akan hujan. Daerah Pasar Minggu juga tidak mengalami banjir. Kami langsung menuju meja registrasi National Youth Conference. Ratusan mahasiswa dengan berbagai warna jas almamater terlihat di tempat tersebut. Hal ini menandakan bahwa acara ini memang dihadiri mahasiswa dari berbagai universitas di penjuru Indonesia. Keceriaan mendapat teman-teman yang baru, jaket baru, dan inspirasi baru mewarnai pagi itu.
          Sekitas pukul 08.00 acara dibuka oleh dua mahasiswa (putra-putri) dari universitas yang berbeda yang bertugas sebagai MC. Acara pun selanjutnya dibuka oleh President Youth Care, Mokhamad Kusnan Al Fatih, yang beberapa hari sebelumnya telah melangsungkan akad nikah dengan Vice President Youth Care, Khairunnisah. Dalam perkenalannya, Youth Care (YC) merupakan organisasi kepemudaan yang memiliki visi : Menjadi organisasi pemuda tingkat dunia yang berhasil menanamkan sistem keseimbangan pada diri pemuda. Organisasi ini memiliki dua misi. Yang pertama, Mensinergikan seluruh potensi pemuda untuk bisa bersatu dan bekerja dalam Youth Care dengan sepenuh hati. Kedua, Mengembangkan program-program Youth Care dalam rangka mencetak pemuda yang memiliki beragam kemampuan. YC berdiri pada 23 Januari 2011. Dalam acara ini akan dipaparkan Renstra  Youth Care untuk kebangkitan Indonesia. Selain itu dijadwalkan akan ada 10 tokoh inspiratif, diantaranya Joko Widodo, Anis Matta, Neno Warisman, Adyaksa Dault, Anis Baswedan, Sandiaga S. Uno, Imam Gunawan, Musholli, Nugroho Widyantoro, Firman Abadi. Dalam rangkaian acara ini juga akan diadakan aksi damai pemuda dari bundaran HI menuju Monas dengan tujuan untuk menginspirasi.  Melihat kondisi Jakarta sekarang, sepertinya bakal dipastikan para tokoh tersebut tidak akan datang. Satu jam, dua jam, acara berlangsung, tetapi tidak ada tanda-tanda ada tokoh inspiratif tersebut. Panitia pun tidak memberikan konfirmasi ataupun permintaan maaf jika memang para tokoh tidak bisa datang. Akhirnya, majulah salah seorang mahasiswa dari UGM yang bernama Rizki ke panggung. Ia berbicara menggunakan mic dan menyatakan kekecewaannya karena merasa telah dibohongi YC. Para peserta telah membayar Rp 150.000,00 untuk mengikuti acara ini. Tidak dipungkiri, salah satu hal yang membuat peserta tertarik adalah adanya para tokoh yang dijanjikan. Namun, dengan seenaknya tidak ada kejelasan dari panitia mengapa para tokoh tidak hadir. Akhirnya Kusnan meminta maaf atas kelalaiannya dan menjelaskan bahwa panitia telah berusaha menghubungi tokoh, akan tetapi mereka tetap tidak bisa hadir. Suasana menjadi cukup kisruh karena kekecewaan peserta, tetapi panitia bisa mengkondisikan. Akhirnya Rizki juga meminta maaf atas sikap protesnya yang tiba-tiba di depan peserta. Saya pribadi juga merasa kecewa dengan acara ini, begitu pula teman-teman. Ternyata banyak sekali hal-hal yang membuat peserta kecewa, diantaranya :
1.       Renstra yang aneh, karena target-target/mimpi-mimpi yang dibuat seakan dipaksakan. Berikut Renstra YC :
a.     Membangun YC di setiap universitas
b.     Membuat target 1 tahun meliputi 10 aspek :
·      Penentuan jumlah SDM
·      Penentuan waktu para SDM up grading dengan pusat
·      Pihak birokrasi kampus mengetahui/menyetujui YC
·      Masing-masing YC kampus minimal masuk di 2 sekolah
·      @Ranger/pengurus akan ikut YC camp selama 1 minggu dengan perwakilan dari @kampus
·      Punya generasi yang sudah dipenetrasi minimal 100 orang dalam 1 tahun
·      Menyelenggarakan NYC regional
·      Menambah jumlah sekolah setelah NYC regional
·      Mandiri secara finansial untuk @kampus
·      @Ranger harus mandiri
c.      Menentukan kapan mengundang teman-teman pusat untuk deklarasi YC di regional
d.     Menbuat laporan setiap kegiatan
2.      Ketidakhadiran para tokoh inspiratif
3.      Acara NYC yang dibarengkan dengan resepsi pernikahan presiden yang membuat peserta NYC diminta pindah tempat ke aula masjid karena akan digunakan untuk resepsi (???)
4.     Sebagian panitia NYC ternyata juga menjadi EO resepsi (???)
5.      Acara diskusi untuk membahas renstra dilakukan dalam waktu yang sangat singkat (sekitar 30 menit) padahal peserta belum begitu tahu tentang YC dan dilakukan di masjid
6.     Acara makan siang dilakukan di masjid yang membuat masjid menjadi kotor
7.     Pengkondisian peserta yang cukup kacau, terlihat ketidaksiapan panitia
8.     Saat adzan dhuhur, panitia justru bersuara menggunakan mic untuk mengatur peserta
9.     Pembagian sertifikat tidak tertib dan sertifikat belum distempel
10.  Tidak disediakannya tempat sampah yang memadai, hingga sepatu para akhwat menjadi korban kotoran sampah
11.    Emosi presiden saat aksi di bundaran HI
12.   Aksi malah terkesan seperti pencitraan YC, hanya sekedar berkoar-koar, bukan aksi nyata yang menginspirasi, tetapi justru mengganggu lalu lintas.
13.   Kurangnya penjagaan paserta putra kepada peserta putri saat aksi
14.  Tidak disediakaanya tempat penitipan barang-barang peserta saat aksi
15.   Kurang pedulinya panitia pada peserta aksi yang sakit
Masih banyak lagi bentuk kekecewaan peserta yang tidak mungkin untuk disebutkan semua. Akhirnya, hal ini membuat para mahasiswa UGM dan mahasiswa lain yang kecewa melakukan sebuah protes tertulis yang ditandatangani oleh mereka. Kekecewaan mahasiswa UGM juga disebabkan karena mereka telah merelakan untuk izin ujian semester demi mengikuti acara NYC ini. Sedangkan untuk mahasiswa UNS, dengan komando Mbak Erny dan Dito, memilih untuk tidak hanya menyatakan kekecewaan, tetapi melakukan sesuatu, meskipun itu hal kecil, yang dapat membantu masyarakat, khususnya masyarakat Jakarta yang sedang terkena banjir. Kami pun memutuskan untuk menggalang dana saat aksi, dimulai dari kami sendiri, peserta, kemudian warga sekitar yang menyaksikan aksi. Sepanjang perjalanan saat aksi terjadi pergolakan batin dalam diri saya. Aksi seperti ini bertentangan sekali dengan jiwa saya. Terdapat perasaan malu saat melihat bapak-bapak petugas kebersihan yang justru secara nyata membersihkan sisa genangan air di sepanjang jalan meniju Monas (ini lebih inspiratif dibandingkan sekedar berkoar-koar di jalan). Terdapat perasaan bersalah setiap menyeberang jalan hingga membuat pengguna jalan yang lain rela menunggu rombongan peserta aksi lewat, padahal mungkin saja mereka memiliki kepentingan yang jauh lebih penting dan mendesak. Perasaan malu, bersalah dan capek (karena bawaan yang berat) bercampur aduk hingga akhirnya aksi selesai di depan Istana Negara. Dalam hati saya, tidak akan lagi mengikuti acara seperti ini. Mungkin ini akibat dari keteledoran saya yang kurang cermat ketika akan mengikuti suatu acara. Seharusnya saya lebih cermat dalam menganalisis esensi acara, kejelasan acara, visi misi, siapa pengurusnya, bagaimana kiprah organisasi itu selama ini. Ini cambuk yang sangat tajam untuk saya.

OBAT KEKECEWAAN
          Tidak baik terus-menerus mencela kegelapan. Akhirnya kami istirahat sejenak di depan pintu gerbang monas. Saya ingin sekali membeli buah segar serta lutisan di penjual di sekitar situ. Alhamdulillah, mungkin memang ini berkah saya dan teman-teman, bapak polisi yang tadi mengawal kami saat aksi membayari kami yang memesan buah apapun pada penjual buah tadi. Terima kasih bapak, semoga uang ini berkah dan Allah yang membalas kebaikanmu. Setelah istirahat sejenak, kami mencari masjid untuk shalat Ashar. Kami ingin sekali shalat di Masjid Istiqlal, akan tetapi jika ditempuh dengan jalan kaki, lumayan melelahkan. Namun, kami tidak menyerah. Sembari menikmati keindahan Monas, kami berjalan santai bersama-sama menuju Istiqlal. Di depan Istiqlal terdapat Gereja Katedral yang sangat megah dan artistik. Dua tempat ibadah yang saling berhadap-hadapan ini menimbulkan dua asumsi, antara toleransi ataupun ironi.  Beralih ke Istiqlal, dimanapun dan kapanpun saat kita melakukan perjalanan jauh yang melelahkan, memang masjid adalah tempat ternyaman dan paling tenang untuk mengistirahatkan tubuh lelah kita. Begitu pula dengan Istiqlal. Tempat wudhu yang luas, keamanan yang terjamin, serta tempat ibadah yang luas membentang dengan sesekali terlihat burung kecil ikut menikmati suasana ketenangan Istiqlal, membuat saya betah untuk beristirahat di masjid megah ini. Satu hal yang ingin saya sarankan, sebaiknya cleaning service untuk toilet dan tempat wudhu wanita adalah seorang wanita. Karena sempat terjadi insiden saat saya akan wudhu, ternyata di tempat wudhu ada bapak-bapak cleaning service. Kalaupun memang petugas itu seorang laki-laki, alangkah lebih baiknya jika beliau menunggu di luar, bukan di dalam tempat wudhu wanita. Di sekitar masjid ini juga terdapat banyak anak kecil yang mengemis kepada para pengunjung masjid. Ini merupakan hal yang sangat miris. Sempat saya katakan pada salah satu anak kecil yang kebetulan memang bersekolah, “ Besok lagi sekolah saja ya Dik, belajar buat sekolah, oke?”
Hari menunjukkan pukul 17.00 WIB. Adi, Dito, dan Amirza telah menunggu dan mengingatkan rombongan kami untuk segera pulang. Namun, sebelum pulang, kami sempatkan untuk jajan, mengisi perut di lingkungan sekitar koperasi Masjid Istiqlal. Setelah perut lumayan kenyang, kami pun berpisah dengan Thiara, Erny, Yunita, Ulva, Atika, dan Aya. Mereka naik bus menuju Bekasi. Sementara Saya, Mamel, Fair, Mbak Ari, Nisa, Dito, Adi, dan Amirza mencari halte bussway. Di halte bussway, rombongan putra dan rombongan putri berpisah karena jurusan bussway yang dinaiki memang berbeda. Harga tiket bussway adalah Rp 3.500,00/orang. Saya dan rombongan putri naik bussway sebanyak 3x hingga sampai di terminal Pulogadung. Bussway I berwarna biru dan terlihat lebih jelek jika dibandingkan bussway II dan bussway III yang berwarna merah. Kami berdiri di dalam bussway I. Setelah itu, kami berganti ke bussway II. Meski tidak mendapat kursi, tapi saya bisa duduk di samping pak sopir (walaupun bukan duduk di kursi bussway). Kesempatan ini saya gunakan untuk berbincang-bincang dengan Pak Sopir yang sangat ramah dan saya ketahui bahwa beliau berasal dari Jawa Barat. Banyak hal yang kami perbincangkan, diantaranya tentang sistem pemberhentian bussway, cara mengendarai bussway, pendapatan dari mengendarai bussway, jam kerja beliau, copet di dalam bussway maupun halte, kondisi jalanan di Jakarta yang berlubang, kegiatan saya selama di Jakarta, tentang Solo, Jogja, dll. Di sela perbincangan kami, tidak jarang beliau bercanda, sehingga perjalanan di bussway terasa tidak membosankan. Namun, sayang sekali saya harus berganti bussway ketika sampai di halte Pulomas. Hal ini dikarenakan bussway II harus diisi makan terlebih dahulu. Sampai jumpa Pak Sopir yang ramah…  Ketika di bussway III saya mendapatkan tempat duduk, sehingga saya manfaatkan waktu selama di bussway untuk tidur, karena badan sudah terasa tidak fit dan capek sekali.
Tidak lama kemudian, kami sampai di terminal Pulogadung. Kondisi terminal yang cukup bau, membuat saya merasa mual dan semakin pusing, tetapi semua itu masih bisa saya atasi. Kami berganti naik angkot nomor 31 dengan ongkos sebesar Rp 4.000,00. Sepanjang perjalanan saya tidur di dalam angkot. Meski tidur, saya masih bisa mendengar berbagai pengamen yang naik turun angkot yang saya naiki. Para pengamen tersebut kebanyakan sedikit memaksa, ngomel-ngomel kalau tidak diberi, dan lagu-lagu yang mereka nyanyikan tentang kemanusiaan yang sedikit menyindir. Inikah kehidupan yang sebenarnya di ibukotaku?? Betapa nyamannya hidup di desa jika merasakan kehidupan ibukota yang seperti ini.
Angkot telah sampai di gapura menuju rumah Nisa, yang sering disebut dengan gardu. Kami pun turun dari angkot dan berjalan sekitar 500 meter masuk ke kompleks perumahan. Sesampai di rumah Nisa, kami disambut oleh Bapak, Ibu, dan juga Dik Nurul (satu-satunya saudara kandung Nisa). Mereka tidak kalah ramah dibandingkan keluarga Thiara. Senang sekali memiliki teman-teman yang keluarganya juga ramah-ramah. Bapak Nisa seorang karyawan swasta, sedangkan Ibu mengajar kelas 6 di salah satu SD di dekat rumah. Dik Nurul adalah mahasiswi semester 1 jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia UNJ. Karena tidak kuat menahan capek, akhirnya saya meminta izin untuk tidur terlebih dahulu di dalam kamar. Saat itu kebetulan ada teman-teman SMA Nisa yang berkunjung ke rumah. Setelah sedikit terobati, akhirnya saya mandi dan memilih untuk pindah tidur di depan TV bersama Nisa dan Mamel. Ternyata lebih nyaman tidur di depan TV,hehe…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan sahabat memberikan saran,komentar, ataupun kritik. Namun, ingat yaaa, tetap jaga kesopanan ^_^