Awalnya kami sedang
jalan-jalan ke book fair. Suka saja tiap melihat tumpukan buku-buku yang tertata
menarik. Langkah kami tertuju pada stand
buku paling pojok. Kalau stand yang lain lebih memajang buku-buku agama, stand
pojok satu ini juga memajang novel-novel. Fitroh pun tergoda ketika melihat ada
kumpulan novel yang entah siapa pengarangnya, jujur saya benar-benar baru
mengenalnya dan mendengarnya kala itu. Rasa penasaran pun tumbuh mencokol dalam
batin saya dan seperti biasa berbondong-bondong pertanyaan saya tembakkan pada
adik kos saya ini. Rasa penasaran pun semakin menggelitik lebih dalam ketika
mendengar penjelasan panjang lebar dari Fitroh. Daun yang Jatuh Tak Pernah
Membenci Angin dan Ayahku (Bukan) Pembohong langsung diculik Fitroh malam itu. Sementara
saya berhasil menculik Gurunya Manusia karya Munif Chatib.
Sesampai di kos,
Gurunya Manusia langsung saya lahap. Belum habis melahap Gurunya Manusia, saya
semakin digelitiki oleh dua buah karya Tere Liye yang telah diculik Fitroh tadi
malam. Tak sanggup menahan rasa penasaran, akhirnya Daun yang Jatuh Tak Pernah
Membenci Angin pun ganti saya culik. Luar biasa, tidak ada setengah hari, saya
mampu melahap novel karya Tere Liye ini. Bahkan saya sampai menangis sambil
berlindung di balik bantal ketika membaca kisah Tania dalam novel tersebut.

