Get Gifs at CodemySpace.com
Tampilkan postingan dengan label tere liye. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tere liye. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 Juli 2013

Gara-gara Fitroh dan Andre


Awalnya kami sedang jalan-jalan ke book fair. Suka saja tiap melihat tumpukan buku-buku yang tertata menarik. Langkah kami tertuju  pada stand buku paling pojok. Kalau stand yang lain lebih memajang buku-buku agama, stand pojok satu ini juga memajang novel-novel. Fitroh pun tergoda ketika melihat ada kumpulan novel yang entah siapa pengarangnya, jujur saya benar-benar baru mengenalnya dan mendengarnya kala itu. Rasa penasaran pun tumbuh mencokol dalam batin saya dan seperti biasa berbondong-bondong pertanyaan saya tembakkan pada adik kos saya ini. Rasa penasaran pun semakin menggelitik lebih dalam ketika mendengar penjelasan panjang lebar dari Fitroh. Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin dan Ayahku (Bukan) Pembohong langsung diculik Fitroh malam itu. Sementara saya berhasil menculik Gurunya Manusia karya Munif Chatib.

Sesampai di kos, Gurunya Manusia langsung saya lahap. Belum habis melahap Gurunya Manusia, saya semakin digelitiki oleh dua buah karya Tere Liye yang telah diculik Fitroh tadi malam. Tak sanggup menahan rasa penasaran, akhirnya Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin pun ganti saya culik. Luar biasa, tidak ada setengah hari, saya mampu melahap novel karya Tere Liye ini. Bahkan saya sampai menangis sambil berlindung di balik bantal ketika membaca kisah Tania dalam novel tersebut.

Minggu, 14 Juli 2013

Rembulan Tenggelam di Wajahmu : Pelajaran Hari Ke-4 Ramadhan 1434 H


 Hari ini aku tidak pergi mendengarkan ceramah/kajian Ramadhan rutin di NH (tepatnya karena ketiduran dan mendadak ingat belum mengantar buku Udah Putusin Aja! yang akan dipinjam adik lesku). Aku pun menyetel radio, frekuensi 92.1 seperti biasa, mencari-cari ceramah, berharap bisa menggantikan ceramah yang tak aku ikuti di NH sore ini. Namun, apa mau dikata, hingga malam, ceramah itu tak kunjung kutemukan. Menyalakan TV?? Jujur, hari ini aku tak berminat.

Alhamdulillah, meskipun tak kunjung mendapat apa yang aku cari, tapi tanpa terasa sebenarnya aku telah mendapatkan pelajaran yang sangat berharga hari ini. Pelajaran yang Insya Allah dapat menggantikan pelajaran yang dapat kupetik dari ceramah/kajian yang tak kuikuti sore ini.

Ya, novel karya BangTere selalu memberiku pelajaran berharga. Biarlah orang mencela ketika melihatku membaca novel ini, lantas berkata mengapa tidak membaca buku yang lain saja? Mengapa tidak membaca buku agama saja? Oh, haruskah aku katakan, aku perlihatkan kepadamu saat aku membaca buku agama?

Cukup, aku hanya tidak ingin berdebat. Sungguh, sebenarnya aku ingin mengatakan ini kepadamu. Namun, lidah ini kelu, hanya jemari tangan yang mampu menyampaikan apa yang sebenarnya ingin kusampaikan.

Kamis, 13 Juni 2013

Sperma pun Berkata, "Aku tidak hina teman-teman..."


Jujur, niat awal saya mengikuti seminar nasional DEALOVA di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) tanggal 9 Juni 2013 adalah agar bisa melihat Bang Tere, novelis favorit saya. Saya bahkan tidak peduli dengan isi materi yang akan saya dapatkan dari semnas ini. Dalam semnas tersebut terdapat tiga pembicara, diantaranya dr. Tonang Dwi Ardyanto SpPK, PhD, Makhyan Jibril Al-Farabi, dan Darwis Tere Liye. Ketika pembicara pertama, yaitu dr. Tonang menyampaikan materinya, saya pun mengubah niat saya tersebut. Ya, saya berniat insya ALLAH untuk mencari ilmu yang akan menjadi bekal hidup saya di dunia akhirat. Materi yang disampaikan oleh dr. Tonang bertemakan “Berawal dari Sperma”.

Bang Tere ^_^



Minggu, 9 Juni 2013 adalah hari yang saya tunggu-tunggu waktu itu. Ada apa ta??? Tenang saudara-saudara, sabar.. sabar.. saya pasti adakan konferensi pers (alay banget si???). Jadiii, pada hari itu, saya ada jadwal bertemu dengan novelis favorit saya, hihihi, Darwis Tere Liye alias Bang Tere. Masih nggak tahu itu siapa??? Hadeeehh, itu lho penulis novel Hafalan Shalat Delisha, Negeri di Ujung Tanduk, Negeri Para Bedebah, Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin, Ayahku ( Bukan ) Pembohong, Sepotong Hati Yang Baru, de el el. Pagi itu saya sungguh-sungguh berterima kasih yang teramat sangat buat emak dan tetehku tersaiiyyyaang ( Mak Fairuz dan Teteh Nisa) yang sudah berjuang mati-matian berangkat dari kos jam 6 pagi dan mendapatkan tempat duduk yang Te O Pe Be Ge Te, barisan paling depan broo, belakang tempat duduk Bang Tere \(^_^)/. Emaaaakkk….Teteeeehhh….. muaaachhh… hehehe